Monday, April 1, 2013

Doing what people might not willing to do

Paskah sudah berlalu. Uppss, untuk tidak menyingggung pihak lain yg mungkin beda tanggal Paskahnya, aku perjelas ya. Paskah umum di gerejaku sudah berlalu kemarin. Empat kebaktian berlangsung dengan baik, mulai dari yang jam 5, jam 8, jam 10, dan yang jam 5 sore.

Di tengah-tengah waktu antara jam 11-an sampai jam 5 sore, aku pergi bersama kedua temanku ke Asemka. Sebenernya sih awalnya gak ada tujuan mau ke asemka yaa… Soalnya tujuannya mau ngetik di laptop (kalo dapet colokan) atau go home buat tidur. Ternyata oh ternyata, kedua rencana ini pun tidak terlaksana. Karena diajakin temen aku, akhirnya kita bertiga pergi ke sana. Temen aku itu mau beli perlengkapan dekor buat paskah remaja minggu depan. Nah, singkat cerita, udah muter-muter cape belanja sana sini, kita balik lagi ke gereja.

Terus, masuk ke ruang istirahat pendeta yang hari itu dijadikan tempat tidur buat anak-anak yang nginep di gereja karena ngisi acara. Maklumlah, kan para pengisi acara harus siap-siap dari pagi. Jam 3 atau jam 4-an udah harus di gereja, bahkan lebih pagi lagi kalo yang harus make-up full. Aku sih datengnya jem 5 kurang 10 alias 4.50, hehehhehe. Soalnya, gak perlu make-up, cuma ngeklik-ngelik lagu buat drama. Intinya di belakang layar gitu lah, cuma perlu ada di sana di waktu yang seharusnya, hehehehe…

Di kamar itu kita ngobrol-ngobrol deh. Yang mandi ya mandi. Yang ngobrol ya ngobrol, hehe. Buat aku, pengalaman semacam ini tuh salah satu pengalaman baru buat aku. Soalnya, jujur, ini baru pertama kali tuh aku ambil bagian di umum yang aku sendiri pun tahu resikonya. Harus bangun pagi-pagi buta, dan siap-siap dari pagi. Nah, di tengah acara ngobrol-ngobrol itu, temen aku ada yang bilang gini, “Tadi, si Bang **** (pelatih drama aku, namanya gak perlu lah ya, gak penting), berdoa gini lho pas kita mau tampil. Doanya lebih kayak curcol ketimbang doa biasa.’Berkati drama ini, meskipun gak semua orang mau berperan kayak gini. Dan kumpulkanlah kami kembali di pertemu-pertemuan yang berikutnya. Semoga kami dapat berkumpul lagi di waktu yang akan datang.’ Dia tuh ngomongnya kayak kita tuh udah gak bakal ketemu lagi gitu. Terus, pas dia doa, gak semua orang mau berperan kayak gini, tiba-tiba aku baru sadar, emang gak semua orang mau berperan dan drama kayak gitu.”

Ya itulah inti dari apa yang teman aku katakan. Temen aku itu berperan sebagai batu kubur yang bisa gerak gini, atau disebutnya penari kubur. Bareng sama temen aku yang lainnya, kayak orang main wak-wak gung, temen-temen drama aku bikin berformasi seperti batu yang didalamnya ada Tuhan Yesus-nya. Terus, ceritanya batu kuburnya digulingkan dan batu kuburnya juga pecah. Tuhan Yesus-nya keluar, bangkit gitu. Nah, kostum yang dipake itu juga cuma kain coklat yang ada penutup kepalanya. Pas posisi wak-wak gung gitu boro-boro mukanya keliatan. Make up seadanya, gak make up juga gapapa kok. Lighting-nya juga minim, karena mereka pegang light stick dan mau kasih liat efek light stick-nya gitu. Kalo terang mah, percuma juga. Intinya, jangan harap muka mereka bisa terlihat dengan jelas. Mami aku aja sampe nanya, “Temen kamu tuh main drama jadi apa?” Terus, aku bilang jadi baru pun, dia belom mudeng. Malah si mami balik tanya, batu yang mana? Emang ada batu? Cape deh mamiiii… Terus aku bilang, itu lho ma, yang lampu-lampu itu yang pas tampilnya pertama banget… Barulah si mami bilang, “Ooohhhh.” -_-

Ya, seperti itulah. Gak semua orang mau berperan seperti itu. Drama yang mukanya tidak dosorot, pemain sampingan yang tidak jadi pusat perhatian semua orang. For real, meskipun katanya pelayanan itu buat Tuhan, kemuliaan buat Tuhan aja, aku percaya kok, gak semua orang bener-bener mengamini itu dan berprinsip kayak gitu. Sedikit atau banyak, mereka juga mau tampil dan dilihat orang. Dan apa yang dikatakan pelatih drama itu, somehow, it’s true lhoo… Penari batu itu, jangan harap mereka dikenal orang, keliatan aja belom tentu. Betul kata pelatih drama aku, gak semua orang mau melakukannya.

Aku sendiri lebih parah lagi dari mereka. Cuma jadi operator yang kerjanya nge-klik, nge-klik doang.  Capenya sama, harus dateng pagi juga, harus stand by di sana dari jem 5 pagi juga. Kadang ngerasa seperti gak guna, meskipun gak boleh merasa seperti itu sih. Kalo jadi liturgis, pendeta, singer, solois, vocal group, main musik atau nari kan, keliatan jelas kontribusinya.

Tapi terus Tuhan menegur aku, kalo aku gak boleh merasa kayak gitu. Pas sebelum kebaktian 3 berlangsung, aku kan bilang mau foto sama pelatih drama aku dan temen aku yang jadi batu itu. Terus, dia bilang, sekalian sama dia juga (nunjuk temen aku yang ngurusin kostum). Tanpa mereka, drama ini gak bakal jalan. Aku yang tadinya masih kurang mudeng langsung ngerti. Aku yang sempet mikir peranku ini gak begitu berguna, jadi merasa berguna. I'm proud of what I have done.

Ya, aku semakin disadarkan, gak harus selalu tampil di depan panggung untuk bisa melayani ataupun melakukan sesuatu. Ada enaknya juga di belakang panggung, memang kita gak keliatan, dan mungkin nobody knows kita ngapain hari itu, gak seorang pun notice peran dan keberadaan kita, tapi aku yakin kok, Tuhan itu melihat. Tuhan tahu apa yang kita kerjakan. Tuhan tahu kita melakukan sesuatu yang baik dan gak ada hal yang terlalu kecil atau terlalu gak penting bagi Tuhan sehingga kita harus merasa tidak dihargai. Justru dengan seperti ini, kita diuji, buat siapa sih lu ngelakuin semua ini? Meskipun gak dibayar, gak dikenal, gak keliatan sekalipun, masih mau gak sih kita pelayanan? 

Aku jadi inget sama temen-temen multimedia lainnya yang sama-sama di belakang layar. Meskipun mereka gak keliatan, meskipun tidak dipandang, tapi mereka mau melakukan tugas pelayanan mereka. Kalo dibilang, oooh, tugas mereka kan gampang?? Siapa bilanggg?? Yang satu megang powerpoint liturginya, yang satu megang tayangan aksi kasih, yang satu megang lagu punya drama, yang satu megang suara buat pemain drama, yang satu megang suara (mike-nya) paduan suara sama band, dan yang satu lagi nyorot ke panggung. Coba aja mikir, kalo gak ada mereka, memang mungkin kebaktian setiap minggu bisa berjalan sebaik ini? I don’t think so. Peran mereka sangat penting, meskipun gak keliatan. Meskipun jarang diperhitungkan dan kalo giliran foto pun gak pernah diajak.

Menurut aku, that’s the point of serving God! 

Semoga bisa menjadi bahan perenungan baru buat kita semua. God bless you =)

Multimedia drama-pengurus kostum-sutradara-penari batu

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here